Kopi rempah cirebon – juga tidak hanyan terkenal dengan motif batiknya,dan arsiteturnya yang indah dan juga bagus, seni lukis, seni taei. Tapi Cirebon juga terkenal dengan resep kopi rempah yang sangat mantap dan juga enak.

Orang Cirebon mengenal minuman kopi yang disebut sebagai “kopi Arab”. Rasanya yang hangat nggak cuma terasa di rongga mulut dan tenggorokan, tapi juga sampai ke perut.

kopi rempah cirebon

Sebenarnya kopi rempah cirebon ini sama seperti kopi-kopi biasa hanya saja kopi ini diberikan camporan dengan rempah-rempah.

Meskipun kopi arab juga menjadi salah satu cara dimana orang luar menikmati kopi itu. kopi asal Cirebon ini disebut “kopi Arab” bukan karena bijinya berasal dari Arab, tapi karena awalnya dibuat oleh keturunan Arab secara turun temurun sejak kedatangan mereka ke Cirebon lalu menetap di sekitar masjid sebagai pengrajin gerabah.

Rahasia kopi arab

Apa rahasianya sampai kopi Arab asli Cirebon itu sampai sebegitu dahsyatnya? Jawabannya adalah racikannya. Kopi itu dicampur dengan berbagai rempah, seperti jahe, pala, lada, dan cengkeh.

Rempah-rempah itu direndam dalam air, lalu ditumbuk sampai halus sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih bersama bubuk kopi. Setelah wanginya keluar, kopinya lalu disaring sebelum diminum.

Tapi kalo kamu mau nyobain kopi rempah cirebon ini di luar bulan puasa, kamu bisa ke Jalan Kartini di Cirebon. Di sini kamu bisa menyeruput aneka jenis kopi rempah, atau yang biasa mereka sebut dengan “korem”. Kopi rempah cirebon di sini campurannya lebih beragam, seperti kapulaga dan kayu manis. Pemanisnya juga pakai gula batu. Rasanya? Sudah pasti hangat dan menyegarkan ingin lagi dan lagi!

Nggak cuma pake rempah-rempah, tapi kamu juga bisa kopi kamu ditambahin telur atau madu. Menurut beberapa pengakuan orang, setelah minum kopi ini biasanya mereka nggak bisa tidur selama 3 hari tapi badan tetap segar.

Kopi Arab Pada Zaman Dahulu

Konon pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, kopi Arab ini biasa dihidangkan kepada ke delapan wali lainnya yang berkunjung pada saat pembangunan masjid. Mereka lalu mendiskusikan penyebaran agama Islam sambil menyeruput kopi Arab ini di masjid yang arsitekturnya terkena pengaruh budaya Jawa, Arab, dan Cina.